Wednesday, October 24, 2018

Natuna Menuju Geopark Dunia


Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan kementerian terkait dan mitra menyelenggarakan program inisiatif pengembangan pulau-pulau kecil (SIDI) termasuk Natuna guna menggali potensi kepulauan tersebut sebagai geopark dunia.
Siaran pers Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral Kementerian Luar Negeri, Kamis, menyebutkan SIDI-Natuna tahun ini mengangkat tema sentral “Kekayaan Alam dan Budaya di Natuna sebagai Aset Diplomasi Maritim” dengan dua fokus agenda kegiatan, salah satunya menjajaki potensi Natuna sebagai geopark dunia.
Kementerian Luar Negeri melibatkan tim Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang diperkuat oleh pakar dari Universitas Padjajaran guna melakukan kajian awal mengenai potensi Natuna sebagai geoparkuntuk tingkat nasional maupun ke depannya menjadikan Natuna sebagai bagian dari Global Geopark Network of UNESCO.
Indonesia telah berhasil memasukkan Danau Batur, Gunung Sewu, Gunung Rinjani dan Ciletuh sebagai bagian Global Geopark Network of UNESCO dan sekarang berupaya memasukkan Danau Toba ke dalam jaringan situs geologis penting tersebut untuk memastikan situs terjaga kelestariannya.
Natuna memiliki banyak situs, termasuk batu granit yang berusia lebih dari 100 juta tahun, yang bisa menjadikannya sebagai geopark maritim. Natuna juga memiliki aspek budaya dan kesejarahan menarik, termasuk tradisi pantun di Kepulauan Riau yang sedang diajukan menjadi salah satu warisan budaya dunia melalui UNESCO.
Melalui kajian budaya dan kesejarahan, para akademisi akan menggali peran Natuna dalam sejarah Jalur Rempah Nusantara. Dunia perlu tahu bahwa ada jalur perdagangan maritim yang dikenal dengan Jalur Kayu Manis dan Jalur Rempah yang dibangun oleh kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, dimana Natuna adalah salah satu bandar laut internasional di abad keemasan Nusantara tersebut.
Dikelilingi oleh empat negara ASEAN dan berbatasan dengan Laut China Selatan, Kabupaten Natuna merupakan bagian dari wilayah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI I), yang merupakan jalur perdagangan global yang sangat ramai.
Secara geopolitik, kawasan Natuna selama seribu tahun terakhir menjadi titik penting dalam jalur pelayaran dari Laut China Selatan ke Samudera Hindia. Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit (abad ke-7 hingga ke-11) Kepulauan Natuna telah menjadi pusat bandar laut internasional.
Di Museum Sri Serindit, Natuna, terdapat lebih dari 10 ribu artefak yang sudah diverifikasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan diteliti para arkeolog. Museum tersebut berisi berbagai peninggalan China dari era Dinasti Tang, Chung, Yuang, Ming, dan Qing, serta peninggalan dari kerajaan di Vietnam, Thailand, Khmer, Jepang, Iran, dan Eropa. Natuna juga kaya peninggalan dari berbagai kerajaan di Nusantara.
Kapala Disparbud Erson Gempa yang juga sebagai Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Natuna, menyampaikan Video Potensi Geopark yang ada di Natuna dan diusulkan untuk dijadikan Geopark Nasional yaitu Gunung Ranai, Tanjung Senubing, Alif Stone, Pulau Senua, Pantai Batu Kasah, Pulau Akar, Pulau Setenau, Pantai Lubang Kamak, Tanjung Datuk. Diakhir paparan, Erson memaparkan konsep MEA Turism (Marine, Eco, Arceology) yang merupakan konsep andalan Natuna untuk Pengembangan Pariwisata Natuna.
Sumber : antaranews , natunakab

Wan Irfan

Author & Editor

NTX24 adalah sebuah Personal Web atau Blog yang menyediakan informasi tentang Natuna seperti WISATA PULAU, PANTAI, KESENIAN, BUDAYA dan lain-lain di daerah Kabupaten Natuna.

0 komentar:

Post a Comment